Melalui sudut pandang awam mungkin kita menelan saja bulat-bulat bila ada komentar terhadap kekalahan telak ini, bagaimana secara kuantitas maupun kualitas, pasukan yang terdiri pemuda tanpa latihan militer memadai maju ke medan pertempuran dengan hanya senjata hasil serobotan seadanya yang jauh dari canggih. Terlebih lagi jika ditinjau dari segi strategi, Margarana bukanlah tempat yang tepat untuk pilihan lokasi pertempuran.
Namun, yang sedikit miris adalah jika kemudian timbul pertanyaan akan keterampilan militer seorang komandan pasukan TKR Sunda Kecil seperti I Gusti Ngurah Rai. Jendral Purnawirawan A.H. Nasution misalnya, dalam bukunya tentang sejarah perjuangan TNI pernah bertanya : "Apakah tidak sebaiknya Letnan Kolonel Ngurah Rai melaksanakan prinsip perang gerilya: Hit and Run?". Pertanyaan simbolik ini kalau boleh diinterpretasikan bebas mungkin akan berbunyi: Seorang komandan pasukan perang gerilya telah bertindak ceroboh dengan mengabaikan prinsip-prinsip disiplin militer sehingga mengakibatkan sebuah pertempuran yang berakhir menyedihkan. Kendati sejarah kemudian mencatatnya sebagai sebuah kisah patriotik.







